- Financial Analysis
Asumsi dan Kesalahan Tipikal Financial Modeling
Kita diskusi tentang komponen penting dalam financial modeling, yakni asumsi, serta kesalahan tipikal yang biasanya dilakukan saat menyusun financial modeling.
Pekerjaan orang finance & accounting tidak lepas dari yang namanya financial modeling.
Apa itu financial modeling?
Financial modeling adalah kuantifikasi strategi manajemen dalam bentuk angka, menggambarkan event moneter tertentu dalam range waktu tertentu.
Financial modeling juga mengambil potret keuangan perusahaan ketika mau masuk ke sebuah project. Ia berfungsi juga sebagai sarana feasibility study, yakni turut menentukan apakah perusahaan akan melanjutkan project tersebut atau tidak.
Dia berfungsi sebagai panduan untuk penyusunan capex, opex dan forecast keuangan: kapan project itu akan laba, kapan investor bisa balik modal, dan lain seterusnya.
Berbentuk berupa spreadsheet (Excel dan sebangsanya), dia menggambarkan kondisi keuangan dan arah bisnis yang diharapkan dari sebuah project di masa depan.
Tujuannya adalah supaya kita bisa mengkuantifikasi juga hasil implementasi strategi-strategi tadi secara keuangan.
Bayangkan jika strategi perusahaan itu hanya berbentuk narasi dan tidak dikuantifikasi, nanti manajemen perusahaan akan sulit untuk mengukur seberapa baik atau buruk strategi tadi itu.
Manajemen juga akan kesulitan untuk membandingkan alternatif-alternatif strategi yang bisa diterapkan.
Maka dari itu, sebagai pengguna financial modeling, pihak manajemen bisa menggunakan financial modeling sebagai sarana untuk continuous improvement.
Siapa aja pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan financial modeling?ya tentunya manajemen perusahaan. Ini karena mereka yang bertanggung jawab terhadap bisnis perusahaan. Selain itu, analis makro/ekonomi juga bisa dilibatkan.
Komponen utama dari financial modeling itu adalah asumsi. Asumsi ini turut menggambarkan konteks dan nature dari aktivitas bisnis perusahaan.
Pemilihan asumsi menentukan seberapa akurat aktivitas bisnis perusahaan bisa terefleksi di dalam financial modeling itu tadi.
Asumsi yang bagus itu ada 2 kriterianya: relevance & reliability.
Seperti di dalam financial accounting framework, relevance adalah prinsip utama dalam pengambilan keputusan perusahaan.
Terkait reliability, semua orang kan bisa ya berasumsi dengan basis yang berbeda-beda. Tapi pada prinsipnya, semakin reliable sebuah asumsi itu, semakin mudah pula asumsi itu bisa diterima (meskipun tidak bisa 100% reliable ya).
Contoh asumsi yang reliability-nya tinggi misalnya data dari BPS atau litbang Kompas.
Kita bisa juga pakai data di industri yang relevan, yang mana industri satu dengan yang lain sumbernya bisa berbeda. Satu contohnya, industri konstruksi bisa menggunakan data dari BCI Asia.
Tanpa kriteria relevance dan reliability itu tadi, financial modeling bisa jadi ajang debat kusir karena para penyusunnya menganut asumsi yang berbeda-beda. Ini perlu kita hindari supaya diskusi bisa jadi lebih produktif.
Kita patut berhati-hati terhadap bias dalam penyusunan asumsi. Artinya, informasi yang kita gunakan sebagai basis asumsi itu terlalu subjektif. Artinya, kita turut menyertakan ekspektasi kita di dalam asumsi tersebut.
Kalau terlalu subjektif, model yang disusun jadi kurang berdasar. Angka-angka yang ada jadi tidak bisa dipertanggungjawabkan, apalagi kalau pihak manajemennya overconfident.
Misalnya, berdasarkan data, jumlah pengguna gadget di daerah X itu sejuta orang. Tapi kita punya feeling, “Eh, kayaknya harusnya bisa lebih tinggi, deh.” Karena ke-pede-an, kita masukkan lah jumlah pengguna yang lebih tinggi itu.
Risikonya apa?selain misinformasi, angka yang ada di modeling vs aktualnya bisa ada gap signifikan. Target jumlah pelanggan kita bisa keliru. Target revenue kita di dalam modeling itu bisa meleset.
Kalau sudah begini, tujuan kita bikin financial modeling jadi tidak tercapai, potret kondisi keuangan project secara objektif malah jadi bias.
Ini penting, karena kalau modeling yang kita susun itu tidak objektif, bisa-bisa nanti project atau perusahaan bisa berhenti beroperasi.
Kalau semua asumsi sudah kita masukkan, barulah modeling bisa kita lakukan, lalu kita kunci untuk kemudian digunakan sebagai basis eksekusi project-nya.
Financial modeling itu adalah living document. Ketika ada dasar, informasi atau asumsi baru yang lebih kuat, maka modeling itu perlu kita update supaya tetap akurat dan objektif.
Meskipun demikian, tidak semua update harus kita lakukan. Pertimbangan kita untuk melakukan update financial modeling itu ada 2: substansi dan materiality.
Misalnya, ada informasi baru yang mengatakan bahwa jumlah estimasi pelanggan di daerah X itu meningkat, tapi hanya 1% dan tidak signifikan. Lalu, nature bisnis kita dengan mereka tidak ada perubahan. Ya kita bisa memilih untuk tidak melakukan update.
Kesalahan tipikal lain dalam menyusun financial modeling adalah: kadang, kita mau angka-angka target di dalam modeling itu agresif. Tapi di lain pihak, para penyusun financial modeling-nya cenderung berpola pikir konservatif. Akibatnya apa?kalau mau melakukan update, kemungkinan terjadi error bisa tinggi. Ini karena asumsi yang sudah digunakan itu banyak, angka-angkanya banyak, dan lain seterusnya.
